Ubah Cerita Setelah Mati Kelak

330

 

Oleh Pangihutan Simatupang

Kata mati, berarti semua aktivitas selesai. Mengering, itu untuk tumbuhan. Terhadap mahluk bergerak dan bernafas, berarti diam dan membusuk. Bagi mahluk berakal, kematian bukan sekedar diam dan membusuk, tetapi ada ketakutan di sana.

Bagi sebagian orang, kematian sangat mengerikan, namun sulit menguraikan ketakutan itu, pokoknya takut. Tetapi tidak sedikit yang menerjemahkan kematian hal biasa, karena mahluk hidup pasti mati, sehingga kematian tidak perlu ditakutkan.

Namun pada tulisan ini, saya tidak mau masuk ke dalam ruang tersebut. Hanya ingin menyampaikan sebuah renungan, bahwa kematian akan meninggalkan banyak cerita, ketika jasad masih di rumah duka atau sudah di dalam tanah.

Hal ini muncul dan pantas ditulis, ketika tetangga saya, seorang pemuda yang cukup ramah, meninggal dunia ketika akan dibawa ke Puskesmas. Katanya penyakit jantung. ‘Mati muda’.

Selanjutnya, muncul banyak cerita, tentang penyakitnya, dan tentang pernyataan, ‘itu sudah ajal, tak perlu dibahas’.

Lalu bagaimana setelah saya dan pembaca mati nanti. Mari renungkan, cerita apa yang muncul kelak. Cerita tentang kematian yang indah, cerita kebaikan yang akan dikumandangkan, atau cerita negatif, tentang sifat kikir, tentang kesombongan, atau tentang kebengisan yang ‘dirumpikan’ secara bisik-bisik. Atau cerita dulunya NAKAL, sekarang sudah berusaha berubah baik.

Semua itu tergantung saya dan pembaca, karena di dunia ini semua bisa berubah sekejap, termasuk mengubah cerita setelah mati kelak. Mengubahnya, bisa diawali setelah membaca tulisan ringan ini. Salam. (PS,Des/20).

 



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *