Catatan Pojok… Selamat Jalan Sahabat, Raul Sitanggang “Selalu Berupaya Konsisten”

103

Oleh: Pangihutan Simatupang

“Ketika pesan WhatsApp (WA) itu datang, yang menyebutkan  dia telah berpulang ke rumah Bapa, meninggalkan dunia ini, namun aku belum bisa  langsung percaya, meskipun pesan WA tersebut datang dari isterinya”.

Bahkan setelah Gery Saragih, rekan dan seprofesi, kuminta untuk memastikan  tentang “kepergiannya”, dan selanjutnya menyampaikan, telah tiba di  rumah duka, dan menyebutkan, segala sesuatu pengurusan terkait kematian sudah disiapkan, Rabu (30/6/2021).

Artinya, satu lagi sahabat dan teman seprofesi, Raul Sitanggang, benar  telah pergi, dan tidak akan pernah bertemu lagi dengan siapa pun di kehidupan saat ini.

Barulah bisa aku ucapkan, “Selamat Jalan Sahabat”.

Konsisten dan mengalah

Dalam tulisan ini, catatan pribadi yang sempat terekam di otakku, dan tak bisa dilupakan, dan akan menjadi kenangan, selagi  memori  di kepala ini masih setia pada fungsinya, kecuali  sudah bersatu dengan tanah kelak, sebagai akhir perjalanan  di  bumi yang fana ini.

Raul, itu panggilan  singkat dan akrab, buat wartawan yang cukup  lama meliput di wilayah Jakarta Selatan, selalu berupaya untuk konsisten, apa yang telah disepakati.

Sikap Konsistens Raul  yang masih melekat dalam ingatan, saat  kami masih bersama  di Harian Sentana.

Sebagai redaktur, aku meminta kepadanya agar  mengutamakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), sebagai pegangan wartawan dalam berkarya, serta terhindar dari sengketa pers,  hal ini dipatuhinya.

Ketika berjanji, dia akan memenuhi janji itu kepadaku. Ketika janji tertunda karena ada kendala, dia akan menghubungi, untuk menjelaskan kendala yang dihadapinya.

Selain  konsisten, kawan yang satu ini, juga kerap  mengalah dalam hal tertentu, agar satu masalah tidak berkembang menjadi besar.

Satu kali, ada rekan seprofesi yang menyampaikan kalimat arogan kepadanya melalui pesan WA, hal tersebut disampaikan kepadaku  melalui WA juga.

Namun di akhir  tulisannya, dia menyebutkan, “biarlah, tak perlu ditanggapi”.

Dia mengalah,….

Dan  beberapa kali dia menunjukkan sikap mengalah, dan hal ini selalu kuingat.

Konsisten, mengalah, dan ada lagi, tampak selalu tenang dan santai. Selalu berpakaian rapi, hal ini juga tidak bisa terlupakan.

Pada akhir tulisan  ini, sikap konsisten dan mengalah, menjadi pengalaman positif  saat bersama dia dahulu, dan harus digarisbawahi, agar kita  terhindar dari  sikap arogan, dan tidak ada  orang yang  harus “mengalah”, karena arogansi kita.

Selamat jalan sahabat, kami sangat merasa kehilangan.

Selamat jalan sahabat, kau telah bersama Bapa di Sorga, Amin.



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *