Kolom  

Soal Kup Terhadap Demokrat, Menuju 2024 AHY Sedang Berhalusinasi

Suryadi, M.Si, Wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Efriza, M.Si Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP).

 

 

 

 

Tidak ada yang istimewa, sebetulnya, pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat (Ketum PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang bersitegas menyatakan, ada orang dalam pemerintahan sedang merencanakan mengkudeta Partai Demokrat (PD).

Seperti dilansir sejumlah media, AHY seperti curhat berkata, “Gabungan gerakan ini ada lima orang terdiri dari kader Demokrat aktif, satu kader yang sudah 6 tahun tidak aktif, satu mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan secara tidak hormat, akibat korupsi dan satu mantan kader yang sudah keluar dari partai tiga tahun lalu.”

Pernyataan itu sebenarnya memperlihatkan bagaimana sosok PD sekarang ini yang membuat menjadi amat jelas berbeda ketika masih menjadi partai berkuasa.

Selayaknya, semua Partai Politik (bukan cuma PD) di jelang Pemilu 2024, sedini mungkin mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketimbang “umbar diri” seolah-olah dirinya besar.

Publik, sebenarnya, sudah tahu lebih dahulu modal asli PD dan apa tujuannya melontar isu seperti itu.

Di negeri ini hampir semua Parpol punya kader “kutu loncat”. Musim ini seseorang di Parpol “A”, musim depan pindah ke Parpol “Z”, karena selain si politikus dan memang Parpolnya sendiri nyaris menjadikan ideologi sekadar pemanis-manis belaka.

Parpol besar saja, yang saat ini berada di urutan 1, 2, dan 3 perolehan kursi/suara di Parlemen tidak pantas mengeluarkan statement yang menskalakan diri semacam negara.

Apalagi, PD yang berada di urutan ke-7. Proporsional saja, tidak perlu seperti dikejar-kejar setan. Pemilu 2024 masih tiga tahun lagi.

Terpenting sekarang ini, Parpol berkomitmen dan melalukan konsolidasi dan nyata-nyata menyediakan kader terbaik dan teruji untuk Pemilu 2024. Bukan kader “omong besar demi rakyat”.

Rakyat itu, sebenarnya, sekarang sudah putus asa lihat Parpol karena korupsi demi korupsi melibatkan kader Parpol. Saatnya, tunjukkan komitmen Parpol kalau kadernya korup. Kalau cuma diberhentikan dan tidak diberi bantuan hukum, itu kuno. Lagu lama.

Bahkan, nyaris tak ada bedanya dengan Orde Baru. Kalau salah, dinyatakan perbuatan si oknum. Kalau oke barulah itu kebaikan alias “sukses kami”.

Apa yang dilakukan oleh AHY, sebenarnya menunjukkan PD atau dirinya sebagai Ketum sedang bingung dalam mengelola kepartaian, terutama bagaimana menarik simpatik publik.

Manuver itu malah menunjukkan AHY akhir-akhir gagap dalam berpolitik.

Semestinya sebagai Parpol, apalagi pernah memerintah selama satu dekade, dan berpengalaman dirong-rong terus- menerus oleh Partai Oposisi, PD lebih matang. Tidak “childist”.

PD sudah memahami dalam bermanuver sebagai Parpol yakni mendukung atau menolak terhadap kebijakan, keputusan, maupun program pemerintah.

Bahkan bila perlu menawarkan preferensi kebijakan seperti yang dilakukan PDI Perjuangan (PDIP) tatkala sebagai oposisi. Bukannya malah bermanuver dengan komunikasi yang buruk, seperti SBY sekarang sebagai “chef nasi goreng”, lalu bilang ada yang mau mengkudeta PD.

Potret Parpol seperti itu, bukan politik semestinya dilakukan oleh partai yang pernah memerintah. Sekali lagi, ini politikus yang gagap berpolitik.

Jika memperhatikan sepak terjang PD dan pernyataan dari AHY sebagai Ketum, jelas terlihat bahwa partai ini mengalami ketidaksolidan interna. Bahkan menunjukkkan l kegagapan dalam mengelola partai.

Dari mulai kemerosotan perolehan suara yang tak bisa dihindari, kemudian dari sikap memilih netral maupun setengah hati sebagai pendukung calon presiden, hingga partai ini tak terdengar suara dan sikapnya dibandingkan partai-partai lain di Gedung Senayan.

Pernyataan AHY tersebut dapat disinyalir sebagain, sebuah pernyataan tersurat bahwa ada konflik internal di partainya. Selain itu, juga menunjukkan bahwa Kepemimpinan AHY sedang dipertanyakan.

Hal itu jelas terbaca dengan menyebut adanya upaya Kudeta melalui Kongres Luar Biasa (KLB), seperti disinyalir oleh AHY sendiri.

Selama ini Pd memang tidak bisa menunjukkan berpolitik dengan cantik dalam bermanuver di lembaga legislatif, maupun berkomunikasi, kecuali hanya rumusan usang mencari perhatian masyarakat dengan mengeluh-mengeluh, sebagai ciri khas politik pencitraan yang pernah membesarkannya.

Poin penting dari Pernyataan AHY, sebenarnya bahwa PD malah minta perlindungan dari Pemerintah, bukan sebaliknya pemerintah mau mengambilnya. Karena, kepemimpinan AHY digoyang, akibat dianggap tak becus dalam mengelola partai oleh kader-kadernya sendiri.

Langkah terbaik AHY, semestinya menantang balik untuk melakukan KLB, agar terlihat bahkan telah terpetakan mengenai soliditas dan loyalitas dari pendukung partainya sendiri.

Dibandingkan politik pencitraan lebih baik mereformasi PD menjadi Partai Modern. Dengan itu akan tampak bahwa yang para petinggi dah manajer-manajer politiknya cerdas mengelola konflik.

Selain itu, ada baiknya PD bermanuver sebagai oposisi pemerintah. Karena toh mendukung Pemerintah juga hanya berada di luar pemerintahan, partai ketujuh pula, tak dianggap-lah.

Sudah selayaknya PD jika ingin besar berperilaku lebih menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, apalagi momen Pandemi saat ini. Sehingga, PD diharapkan akan bisa meningkat perolehan suaranya.

Jangan sampai, PD akan semakin menjadi seperti Balon Tiup. Kita bisa melihat bahwa PD sejak dua pemilu terakhir, mengalami penurunan suara drastis.

PD layaknya sebuah Balon Tiup, dari tak ada – lalu ditiup/dipompa hingga membesar, tetapi ketika udara di dalam balon tersebut hilang, akan menyusut susut mengempis.

Lihat saja, dari memperoleh suara sebesar 7,45 persen di awal keikutsertaan di Pemilu 2004 berada diurutan kelima, lalu menjadi peraih suara mayoritas dengan 20,85 persen. Kemudian menyusut menjadi 10,19 persen urutan keempat di Pemilu 2014, selanjutnya PD semakin terjun bebas memperoleh 7,7 persen di urutan ketujuh dari sembilan partai pada Pemilu 2019 kemarin.**

 

Jasa Kelola Website

Tinggalkan Balasan

Kuliah di Turki