Kolom  

Siap Jenderal!

 

Suryadi
Pemerhati Budaya

 

“Selamat bertugas jenderal!” saya sampaikan kepada tim bentukan Kapolri yang ditugasi mengungkap “Peristiwa Jumat 8 Juli 2022” di rumah dinas seorang petinggi/ jenderal Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan (Jaksel). Tim bertugas antara lain mengantarkan peristiwa ini kepada ahli yang akan bekerja
professional sesuai ”scientific crime investigation”.

Tentu, tim juga akan secara saksama mengawal dan mengawasi kerja-kerja penyidik selanjutnya hingga diterima oleh jaksa,
sebelum perkara masuk ke pengadilan.
Di tengah teka-teki masyarakat yang terbangun oleh berbagai komentar dan opini mereka dari beragam latar belakang, saya cuma tak lebih dari sosok warga negara biasa yang berhak atas tidak terganggunya kemanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Saya bukan kriminolog, polisi, forensik, politisi, ahli.hukum, pokrol, dan juga tidak dalam posisi terkait langsung atau tidak langsung dengan peristiwa penghilangan nyawa itu dan upaya-upaya pengungkapannya.

MELALUI tulisan ini, saya ingin memercayai tim bentukan Kapolri itu. Berharap, hasil dari rentetan kerja-kerja tim akan menyibak kabut yang menyaputi peristiwa di rumah seorang petinggi Polri itu, tuntas terurai dari “a” sampai “z”. Dengan begitu, masyarakat lepas dari rasa penasaran di tengah “seliweran” komentar dan isu yang mungkin sebenarnya juga tak mereka pahami, kecuali bermain-main dalam logika.

Catatan yang tak kalah pentingnya bagi Polri, peristiwa itu terjadi ketika Polri masih harus terus berbenah diri. Juga, dalam suasana Hari Bhayangkara yang antara lain ditandai oleh penganugerahan “Hoegeng Award” kepada tiga pejabat Polri pilihan masyarakat. Almarhum Hoegeng, adalah Kapolri ke-5, yang diakui publik dan Kapolri sebagai teladan. Hoegeng adalah “sosok polisi yang berani mengambil risiko hidup sederhana dan resik berbasiskan kejujuran.”

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai kesempatan publik kerap “menantang”: Polri terbuka dikritik demi perbaikan.

Tim Jenderal
SEBELUM sampai pada kesimpulan akhir untuk dapat dinaikkan ke Jaksa, saya tidak ingin menyebut peristiwa ini sebagai “polisi tembak polisi di rumah jenderal polisi”. Riilnya, Brigadir J ditemukan tewas, dengan sejumlah luka tembak. Ia diduga terkena tembakan pistol Bharada E. Tentang luka yang disebut sebagai sayatan, biarlah itu nanti pada saat pengungkapan saja.

Diduga, J menggunakan pistol dinas jenis “HS” yang saat ditemukan masih menyisakan sejumlah peluru. Pistol dinas E jenis “Glock”, juga masih menyisakan sejumlah peluru. Disebutkan, J menembakkan tujuh peluru, sedangkan E menembakkan lima peluru dan dia selamat.

Saya tidak ingin memperkeruh suasana ikut-ikutan menyebut kejadian apa yang telah mendahului peristiwa itu. Biarlah, nanti kebenaran yang akan menjawab. Sebab, saya termasuk di antara masyarakat yang sempat terperangkap dalam ruang yang terbangun “ruwet”.

Menyusul kematian J, di tengah berlanjutnya simpang-siur komentar dan pandangan berikut hal yang melatarbelakanginya, Kapolri membentuk tim untuk mengungkap terkait “Peristiwa Jumat 8 Juli” tersebut. Tim dipimpin oleh seorang polisi senior, yaitu Wakapolri Komjen Pol. Gatot Edy Pramono.

Gatot, yang akan memasuki usia pensiun 28 Juni 2023, adalah seorang doktor, magister ilmu kepolisian (M.Si), sarjana ilmu kepolisian (drs SIK), dan lulusan Akpol 1988. Sebelumnya, ia Kapolda Metro Jaya yang mendapat pujian secara publik dari Kapolri (waktu itu, 2019) untuk prestasinya.

Gatot didampingi sosok lebih senior, yaitu lulusan Akpol, 1987, Komjen Pol. Agung Budi Maryoto. Polisi yang akan memasuki usia pensiun 19 Februari 2023 ini, sehari-hari merupakan orang ketiga di Polri. Jabatannya, Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum). Agung juga M.Si dan drs dalam ilmu kepolisian. Ia tiga kali melalui jabatan Kapolda dan sekali Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri.

Selain itu dalam tim juga ada Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Agus Andrianto. Mantan Kapolda Sumut kelahiran 16 Februari 1967 ini, adalah lulusan Akpol 1989. Ia juga drs lulusan ilmu kepolisian, selain juga sarjana hukum dan magister hukum.

Ada pula dua orang peraih Adhimakayasa (lulusan terbaik) Akpol. Keduanya, Komjen Pol. Ahmad Dofiri, lulusan Akpol 1989 yang kini Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri. Ia mengawali karir sebagai Kepala Unit Intel di jajaran Polres Tangerang. Sosok drs dan M.Si ilmu kepolisian ini, tiga kali menjadi Kapolda (Jabar, DIY, Banten), dan sekali sebagai asisten logistik (Aslog) Polri. Dalam karirnya, ia pernah pula menjadi Karo Pembinaan Karir Asisten SDM Polri.

Seorang lagi peraih Adhimakayasa berada dalam tim, yaitu lulusan Akpol 1991 (satu angkatan dengan Kapolri) Irjen Pol. Wahyu Widada. Sebagai Asisten SDM Polri, tentu, ia adalah sosok pengkaji utama layak dan pantas naiknya karir anggota Polri. Wahyu adalah seorang drs ilmu kepolisian dan master of filosofi (M.Phil),. Sebelum menjadi Asisten SDM, ia dipercaya sebagai Kapolda Aceh.

Naluri Polisi
SENIORITAS pangkat dan jabatan mereka saat ini, mereka lalui sebagai seorang polisi. Paling mendasar dari seorang polisi, adalah bahwa mereka adalah sosok Bhayangkara profesional yang senantiasa bersama dengan “naluri polisi”. In with!

Konkret saja, sudah seharusnya, mereka dengan naluri polisi tidak mudah goyah oleh apa pun yang memengaruhi di sepanjang tugas yang mereka emban. Boleh saja terjadi perbedaan antarsesama anggota tim, tetapi tetap dilandasi oleh kajian ilmiah. Mereka dibimbing oleh moral keilmuan yang dimiliki sejalan dengan naluri polisi yang kian matang ditempa oleh asam-garamnya puluhan tahun bertugas. Itu semua berlangsung di tengah beragam gejolak sosial dan corak kejahatan.

Juga sudah semestinya, mereka bukan lagi sosok polisi yang gampang menafsirkan “bunyi letusan peluru pistol sebagai sekadar bunyi mercon”. Naluri polisi itu, sudah dari “sononya” ada dalam wujud “rasa curiga dan waspada” secara reasonable. Tak main-main, dinamika masyarakat menuntut mereka paham itu.

Intinya, mereka selektif untuk bercuriga, namun peka sekecil apa pun fenomena kemasyarakatan. Itu semua yang terkait dengan gangguan keamanan dari mulai embrio, proses pembentukan potensi, potensi gangguan keamanan, sampai kepada ketika harus membaca terjadinya suatu peristiwa gangguan keamanan atau kriminal. Tentu saja, substansi sesungguhnya di balik semua objek pengamatan mereka.

Alami saja, sebagai manusia belajar yang memelajari ilmu kepolisian, hukum, dan ilmu-imu sosial lainnya, baik klasikal maupun praktis, mereka juga tahu bahwa kehidupan lebih dahulu ada daripada ilmu. Dengan itu, moral mereka teruji memosisikan “human relations”, baik dalam bingkai kolega, pertemanan, keluarga, maupun persaudaraan. Dengan demikian, sudah seharusnya, semua ada dalam hubungan yang proporsional.

Sebagai sosok yang demikian dalam sebuah tim, harapan bahwa hasil-hasil kerja tim akan mandiri berpijak pada “scientific criminal investigation”, jelas satu tuntutan yang harus dipenuhi. Sungguh mulia dan keren!

Akan tetapi, patut dipahami pula, bahwa kekuasaan itu mampu memengaruhi timbulnya tekanan. Keberadaan kekuasaan itu dapat bermula dari kelimpahan harta, kekuatan, jabatan atau kekuasaan itu sendiri, juga ilmu.

Satu saja di antara keempatnya (harta, kekuatan, jabatan atau kekuasaan, dan ilmu) yang “bekerja”, sudah luar biasa dahsyatnya bila diwujudkan untuk menjernihkan persoalan. Demikian pula bila sebaliknya. Apalagi, bila keempatnya bersatu menjadi kekuasaan untuk kebajigan. “Berbuatlah untuk kebaikan dan kebenaran sesuai kekuasaan yang dimiliki,” begitu lebih kurang bunyi pesan moral dan agama.

Oh iya, di antara kekuasaan yang mencita-citakan terwujudnya kebenaran dan kebaikkan, ada kebiasaan sehari-hari yang dijalankan oleh para jenderal dalam tim tadi sejak mengawali karirnya, ketika masih menjadi bagian dari militer maupun sipil seperti saat ini. Ketika Kapolri memerintahkan terlibat dalam tim, pastilah mereka mengulanginya: “Siap laksanakan, jenderal!”.

Itu sudah mendarah-daging. Dalam keseharian, kebiasaan “Siap Bang!” pastilah juga dilakukan oleh E kepada J (semasa hidupnya) tanpa membantah. Apalagi terhadap jenderal. Menggapai pangkat perwira menengah saja, bagi mereka yang basisnya bintara atau tamtama, adalah suatu hal yang amat mereka impikan.

Selamat bertugas tim jenderal!**

Jasa Kelola Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kuliah di Turki