Protokol Kesehatan di Dunia Perfilman dalam Menghadapi New Normal

133

Jakarta, BIJAK

Di tengah pandemi Covid 19 segala sektor berusaha bangkit setelah tiga bulan belakangan lumpuh. Industri perfilman tak luput dari terjangan pandemi virus corona. Penayangan dan promosi sejumlah film tertunda dan bioskop tutup karena kebijakan pembatasan sosial.

Kondisi ini masih berlangsung sampai sekarang dan belum dapat dipastikan kapan akan pulih. Kini kita bersiap memasuki era new normal. Sejumlah protokol disiapkan untuk membuat produksi perfilman kembali berjalan beriringan dengan situasi pandemi yang masih ada.

Penetapan protokol yang ideal dan tepat diharapkan dapat menghidupkan lagi industri perfilman yang kolaps.

Lola Amaria selaku produser menyatakan memang belum ada rencana syuting film selama pandemi Covid-19. Kalaupun harus melakuakn aktivitas syuting lagi bisa tahun depan dengan proses yang enggak sama.

“Saya berharap di fase 1 new normal, semua bisa berjalan, tiga bulan off banyak produser yang mengeluh, baru syuting 3 hari harus break dulu. PH sudah kehabisan modal, gaji kru film belum dibayarkan. Kalau memang Solusinya ke digital. Tapi rasa kepuasan tetap beda jika nonton di bioskop. Dan jika PH harus produksi keselamatan keselamatan harus di kedepankan,” urai Lola. dalam acara Webinar Online bertopik ‘Mengawal Film Nasional Saat Tayang di New Normal’ yang digelar Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud kerjasama dengan Demi Film Indonesia (DFI), Jumat (12/6/2020).

Faktor penentu mulai dari penonton, kondisi bioskop, hingga film-film Indonesia yang bakal rilis. Diasumsikan calon penonton dengan ekonomi mumpuni harus diberi jaminan film bagus dan keselamatan saat menonton.

“Artinya dari mereka. Mereka jadi punya pilihan saya akan ke bioskop atau tidak. Kalau saya ke bioskop, theater, filmnya benar-benar kasih saya benefit dan protokol kesehatannya dapat. Kalau enggak, mendingan saya enggak mau ambil risiko,” kata Aktris Acha Septriasa yang saat ini bermukin di Autralia.

Kapokja Apresiasi dan Literasi Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud, mewakili Dirjen Kebudayaan Eddy Suwardi,mengatakan menyongsong era New Normal setelah 3 bulan dilanda Cofid19, masyarakat perfilman diharapkan ikut menyesuaikan.

“Kepada pengelola bioskop untuk kembali memutar film nasional yang disesuaikan dengan protokol kesehatan. Kita juga akan beri akses ke komunitas-komunitas film, baik yang di Jakarta maupun yang di daerah,” ujar Eddy.

Menurut Eddy, dalam upaya memajukan film nasional, di tengah situasi seperti ini  Direktorat Perfilman tetap lakukan berbagai  kegiatan.

“Kita akan launching FFI Minggu besok. Juga akan ada Festival Mega Film, bagian dari Pekan Budaya Nasional di Istora Senayan, Oktober dan Apresiasi Film,” terangnya.

Yan Wijaya pengamat film senior mengatakan, Januari sampai Maret 2020 film nasionalbaru tayang 28 judul, ditambah 8 film nasional yang tayang Desember 2019.

“Masih ada 122 judul film nasional yang tertunda. Sedang film impor ada 180 judul film. Mungkin prediksi saya nanti di akhir 2020 bakal ada 4 film nasional kolosal yang tayang yaitu Bung Hatta, Taufan, Gatotkaca dan Hamka,” terang Yan.

Penulis: Deddy Haryadi



Bicarajakarta.com adalah media massa berbasis online, situs ini berisikan informasi dan kejadian-kejadian di Ibukota


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *