Pangihutan Simatupang dalam sajak 1

486

 

 

Terbang di negeri pikiranku

Kutikam rasa
Kucincang sedih
Kutendang cengeng

Jangan usik aku

Kubelah langit
Bukan mencarimu
Kubuka tabir
Bukan menghinamu

Jangan sinis kepadaku

Aku di sini sedang mengasa asa
Aku di sini menggali gunung
Dalam pikiranku

Aku harus bebas
Aku harus terbang dengan sayapku
Aku merdeka
Di negeri pikiranku

Merdeka… Merdeka pikiranku.

Jak, Jel/17/8/2020

­

Desak sesak

Panas mendesak ke langit
meski tak gemetar
di dalam tersesat
napas satu-satu tak mau rujuk
berkejaran di persimpangan

Musim lampau
muncul bergiliran selimuti mimpi
suasana tak lagi terbendung
tanpa dusta meronta
gelisah pun tak lagi segan membenam
seperti tak ingin pulang

Jak/29/11/2019

Sketsa  mimpi 

Begitu  saja berjalan
tak lagi  berlabuh
ke timur, barat dan semua  penjuru
dengan kekuatan  angan

Jalan masih  jauh
raih  segala   mimpi
laju  langkah  sudah  lambat

Meski semangat  membara
ragu  jadi kendala
senja  sudah  temaram

Di sini
Aku tetap bangga
masih punya mimpi

Tangerang 29Juni19
Taman  potret/Pang

Rindu yang tak kukenal

Debu terminal tak nyaman
jalan rusak angkot tetap jalan
perempuan bergincu tebal melangkah
bersih putih kulitnya
belakangi semerawutnya  terminal

Aku tetap bertahan
melepas rindu mencari nyaman
berat  beranjak  tapi bosan
semoga kutemukam
rindu yang tak kukenal

Cibinong 2/11/2019/Pang

­

Nurani dan rahasia alam

Tatapan ke depan sana
ombak menari perlahan saling  menyusul
gemulai bagai remaja genit
menyusul sang kekasih
Ikuti hembusan angin
melaju tak pernah berhenti

Jajaran pulau dibalut pepohonan
masih tetap diam
rela ombak membenturnya
tak akan pernah berhenti
setia sepanjang masa

Perahu kecil  berjuang di sana
melaju perlahan ke selatan
ke utara dan kembali ke pulau
membawa cerita tentang gelombang
cerita tiupan angin semalaman
dan semua cerita tentang suka dan duka

aku di sini, di tengah laut ini
coba Belajar  rahasia alam
menggali bukan dengan kecerdasan
bukan dengan alat canggih akhir zaman
bukan dengan retorika milik pendusta
juga bukan dengan kekuasan  otoriter

dengarkan aku
cukup hati nurani dan jiwa peka
cukup dengan mata telanjangku
cukup keyakinan membimbingku

Aku tak peduli kau tertawa
atau anggap aku sinting
Aku tak peduli atas hinaanmu
atau akan menjauhi aku

Yang aku tahu
aku bangga masih punya hati dan rasa
aku  masih menggunakannya
Meski hampir semua meninggalkannya.

Selat Sunda, 28/10/19/Pang



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *