Catatan pojok …. Usia Tua, Medsos dan Aku

167

Ketika terbangun dari tidur, tentu berdoa berucap syukur kepada Tuhan, karena masih diberikan napas kehidupan, dan terus memohon perlindunganNya, serta meminta supaya dijauhkan dari pikiran-pikiran kotor, dari hal yang negatif, dan berharap hati bisa lebih bersih, jujur kepada diri sendiri agar bisa jujur kepada orang lain.

“Tuhan itu maha tahu, apa tujuan kita melakukan sesuatu”.

Jadi terus berupaya berhati-hati bertindak, jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

Ini untuk semua, termasuk aku.

Karena aku meyakini, ketika ada  orang merasa yang  tidak nyaman, apalagi tersinggung dengan perbuatan atau perkataan yang aku ucapkan, atau aku sampaikan, secara langsung atau tidak langsung, ini termasuk bentuk kesalahan, atau mungkin kesombongan dan keangkuhan, serta tidak mau peduli kepada yang orang lain.

Lama hal ini menjadi renungan, aku tak ingin terjebak dalam kebodohan, terlebih di usia tua ini.

Aku harus waspada, karena banyak tipu muslihat di luar sana, di tempat berkumpul dengan teman-teman, di tempat kerja, terutama di media sosial (Medsos), seperti Facebook, WhatsApp, instagram dan yang lainnya.

Setiap saat siap menjebak pikiran dan hati, agar kita melakukan apa diinginkan orang yang tidak bertanggung jawab, untuk kepentingan mereka.

Aku yang sudah tua, semestinya berpikir lebih dewasa, lebih teliti dan harus melakukan filter tajam, agar apa yang akan aku share, tidak menimbulkan keraguan, apalagi membuat orang lain ‘baper’ negatif.

Bagiku ini saat penting pada masa tua ini. Aku ingin memberikan segala yang nyaman kepada orang lain, sebab ketika orang lain nyaman, aku merasa senang dan nyaman.

Seyogyanya aku memikirkan akhir perjalanan hidup ini, tidak lagi bergaya “koboy” bertingkah semaunya, seperti ketika masih muda.

Perlu digarisbawahi, usia tua berarti sudah dekat dengan akhir kehidupan di dunia, yang artinya akan segera meninggalkan dunia yang fana ini. Kita tidak pernah tahu, kapan kita akan ‘pergi’.

Tentu dengan harapan meninggalkan catatan buku kebaikan, yang tertanam di memory semua orang, terutama yang mengenal kita.

Memang ini tidak mudah, aku juga menyadari, banyak kesalahan yang kulakukan, disengaja atau tidak sengaja,.. Tapi aku terus berupaya untuk luput dari semua itu.

Semoga aku bisa, dan kita semua bisa.

Salam dari pria tua ini untuk semua yang sudah merasa tua, dan memang sudah tua, tapi semangat muda, supaya awet muda.

Selamat panjang umur buat kita semua. Tetap waspada ‘bermedsos ria’

 

Penulis: Irfan Pangihutan Simatupang

 

Jlmbr home, Jumat, (9/4/21).



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *