Kolom  

Romantika Kebangkitan Nasional

Oleh: Dr. Usmar. SE.,MM

Perayaan memperingati hari kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei, dimulai sejak Presiden Soekarno pada tanggal 16 Desember 1959 menetapkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 Tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari Libur. Antaralain adalah Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei.

Apa yang mendasari ditetapkannya tanggal tersebut sebagai titik momentum kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia ?

Seperti kita ketahui bersama, bahwa penetapan hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, adalah tanggal saat berdirinya Organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Soetomo dan beberapa Mahasiswa Kedokteran di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) di Jakarta bersama dengan seorang Dokter senior Wahidin Sudirohusodo.

Meski pada awalnya, organisasi Budi Utomo ini didirikan, untuk memperjuangkan peningkatan kesempatan pendidikan bagi pria dan wanita muda di Jawa, dan juga bukanlah organisasi pertama yang berdiri di era jajahan Belanda.

Tetapi pemerintah memutuskan bahwa tanggal berdirinya organisasi ini sebagai ikon Kebangkitan Nasional, karenanya ini adalah hal yang sangat menarik untuk kita bahas.

Simbol Inspirasi
Pada dasarnya berangkat dari kesadaran para Mahasiswa kedokteran ini, yang meyakini bahwa sains, dan teknologi, serta kedokteran modern dapat mengubah kehidupan semua rakyat Jawa. Dan ini telah memberikan semangat dan memotivasi mereka, bahwa Pendidikan adalah jalan untuk membangun dunia yang lebih baik

Untuk itu, para mahasiswa kedokteran ini, mereka belajar, lalu mengetahui dan kemudian meyakini, bahwa dalam dunia sains dan kedokteran, setiap individu itu dinilai berdasarkan kemampuan dan ketrampilan serta prestasinya melalui pendidikan. Dan ini menjadi nilai esensi dari organisasi Budi Utomo.

Jadi, kendati di awali dan fokus pembahasan tentang peristiwa dan rakyat di jawa, tetapi semangat untuk membangun dunia yang lebih baik melalui Pendidikan, telah mampu menginspirasi kalangan muda terdidik lainnya di seluruh Hindia Belanda saat itu.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, mereka membangun organisasi Budi Utomo, sebagai organisasi “modern” pertama yang didirikan oleh Bumi Putera, yang membuat dan memiliki perangkat lengkap sebuah organisasi, seperti; Tujuan, Keanggotaan, Iuran anggota, Aturan Pertemuan dan Rapat, serta Laporan.

Karena itu ketika tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo ini dijadikan titik momentum kebangkitan Nasional sangat beralasan dan dapat dipahami.

Mengenai Siapa Dokter Sutomo

Seorang tokoh penting berdirinya organisasi Budi Utomo, adalah dokter Soetomo. Beliau lahir pada hari Minggu Legi, tanggal 30 Juli 1888 di desa Ngepeh Nganjuk.

Semula nama beliau sejak lahir adalah ‘Soebroto’, kemudian ketika mendaftar pertama di Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah rendah Bumiputera di Bangil, tidak diterima.

Untuk mengatasi hal ini pamannya tidak kehilangan akal. Beberapa hari kemudian pamannya kembali mendaftarkan keponakannya tersebut, dengan mengganti nama ‘Soebroto’ menjadi ‘Soetomo’, dan ternyata kemudian diterima sebagai siswa ELS. Maka sejak itu nama yang selalu digunakan adalan Soetomo.

Ayah dokter Soetomo adalah Raden Soewaji dan Ibunya adalah Raden Ajoe. Jika dilihat dari garis ayahnya adalah keturunan dari Sultan Mataram.
.
Pada tahun 1903, saat telah berusia 15 tahun, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) adalah sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Dan saat studi di STOVIA inilah Soetomo bersama teman-temannya pada tahun 1908 mendirikan organisasi Boedi Oetomo.

Setelah menyelesaikan studi di Stovia pada 11 April 1911, Soetomo memulai kerja dan pengabdiannya di Lubuk Pakam Sumatra Utara, kemudian berpindah ke Malang, Kepanjen, Magetan Dan Blora.

Saat bertugas di rumah sakit di Blora, pada tahun 1917, Soetomo jatuh cinta dan menikah dengan seorang perempuan Belanda, yang saat itu menjadi perawat di rumah sakit tersebut yaitu Ny.Everdina J. De Graaff yang suaminya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya di Belanda.

Ketertarikan Soetomo pada perawat tersebut, dimulai saat dia selalu melihat perawat tersebut meski rajin dalam bekerja, tetapi selalu berwajah murung. Seolah diselimuti duka yang tak kunjung sirna. Sehingga pada satu kesempatan Soetomo memberanikan diri bertanya penyebabnya ?.

Dalam deraian airmata yang mengalir deras, perawat tersebut menceritakan penyebab lara yang dirasa tak teperihkan itu, adalah ketika suami yang sangat mencintainya meninggal dunia, sehingga dia merasa tak ada lagi cahaya yang perlu diperjuangkan dalam kehidupan ini.

Dengan rasa empati yang tinggi, mendengar cerita itu, Soetomo ingin mencoba mengobati luka dan rasa kehilangan itu, meski dengan tetap menghormati kenangan indah yang dimiliki sang perawat. Sejak saat itulah mereka semakin dekat, kemudian menikah secara Islam.

Selanjutnya dari Blora dokter Soetomo dan isteri pindah ke Baturaja Sumatera Selatan, dan pada tahun 1919, dokter soetomo melanjutkan Studi di Universitas Amsterdam, dan Lulus pada tgl 2 Desember 1921. Kemudian melanjutkan studi ke Universitas Hamburg untuk mengambil spesialisasi penyakit kulit dan kelamin.

Baru pada tahun 1923, kembali pulang ke Indonesia dan bertugas di rumah sakit Rumah Sakit CBZ (Central Burgelijke Ziekeninrichting) di Surabaya.

Senandung Duka di Bathin Bangsa

Saat itu, hari Sabtu tanggal 17 Februari 1934, sekitar pukul 9.00 pagi, isteri tercintanya yang sedang sakit, dirawatnya dengan cermat, dan saat mengangkat kepala sang isteri dengan lembut untuk membersihkan wajahnya, bersamaan dengan sang isteri menutup mata untuk selama-lamanya.

Dengan wafatnya isteri yang sangat dikasihinya, dalam usia perkawinan yang sudah memasuki 17 tahun, kendati beliau dan sang isteri tidak dikarunia keturunan, namun sebagai bentuk dan wujud kesetiaannya pada sang isteri, dokter Soetomo sejak kematian sang isteri tidak pernah menikah lagi.

Selanjutnya dalam selang waktu empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 30 Mei 1938 dalam usia yang masih relatif muda yaitu 49 tahun 10 bulan, dokter Soetomo wafat, disebabkan penyakit Kanker hati.

Dengan demikian berakhir sudah perjuangan dokter Soetomo untuk mengabdi pada negeri yang sangat dicintainya yang mendapat dukungan sepenuhnya dari sang isteri, kendati sang isteri warga negara Belanda.

Dan untuk memenuhi keinginan dari dokter Soetomo, sesuai amanat yang disampaikan kepada adiknya dr.Soeratmo pada tgl 29 Mei 1938, sehari sebelum beliau wafat, dengan mengatakan bahwa:

‘Kalau Tuhan ALLAH sungguh-sungguh akan memanggil saya pulang ke zaman Baka, saya ingin sekali di kuburkan di halaman gedung Nasional, diantara rakyat bangsaku’

Maka kemudian beliau dimakamkan di kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Surabaya. Kini, 93 tahun sudah jasadnya telah terkubur, namun masih banyak pesan dan pernyataan yang disampaikannya masih relevan hingga saat ini.

Seperti dalam tulisanya dalam ‘Soera Parindra’ Jilid III tahun 1938 yang berjudul ‘Panggilan Iboe Pertiwi’ Dokter Soetomo mengatakan bahwa “Seseorang haruslah berjuang tanpa mengharapkan adanya imbalan dengan segera, sebab berkorban adalah Kewajiban yang pertama dan terutama atas setiap orang”.

Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa: “Pemimpin yang tidak melahirkan Pemimpin Baru, bukanlah Pemimpin. Pemimpin semacam itu telah kandas dengan Pimpinan”.

Semoga dalam peringatan perayaan Kebangikan Nasional yang ke-103 tahun ini, tanggal 20 Mei 2021, menjadi titik momentum, Indonesia mampu mengatasi persoalan Pandemi Covid-19 dan beratnya tantangan kemajuan ekonomi, untuk kejayaan Negeri yang indah ini.

Jakarta, 19 Mei 2021

Penulis: Ketua LPM Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta* & *Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)

Jasa Kelola Website

Tinggalkan Balasan

Kuliah di Turki