Wujudkan Masyarakat Siaga Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG Gelar Sekolah Lapang Geofisika di Yogyakarta

89

Yogyakarta, BIJAK

­

 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Geofisika (SLG) di Daerah Istimewa Yogyakarta Sebagai upaya mewujudkan masyarakat siaga bencana, salah satunya terhadap ancaman gempabumi dan tsunami.

 

“Kita berkumpul disini untuk menyiapkan diri dan berlatih agar bisa menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat sehingga diharapkan tidak ada korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi gempabumi dan tsunami,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat membuka kegiatan Sekolah Lapang Gempa di Balai Desa Glagah Kabupaten Kulon Progo DI Yogyakarta, Selasa (16/3/2021).

 

SLG bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempabumi dan tsunami. SLG juga bertujuan untuk menguatkan koordinasi antara Stasiun Geofisika BMKG, serta menguatkan peran BPBD sebagai simpul utama rantai komunikasi dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

 

Kegiatan SLG dilaksanakan selama dua hari pada 16-17 Maret 2021 dengan total peserta sebanyak 224 orang. Kegiatan SLG dilaksanakan di dua lokasi, yakni di Balai Desa Glagah diikuti dan Balai Desa Kemadang. SLG diisi dengan kegiatan penguatan pemahaman oleh para Narasumber dari BNPB, PUPR, BPBD DIY dan BMKG, serta dilengkapi dengan Kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Gempabumi dan Tsunami.

 

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan seluruh komponen masyarakat paham dan mampu melakukan penyelamatan diri terhadap bencana gempabumi dan tsunami, sehingga minim risiko korban jiwa maupun korban materiil,” ujar Dwikorita.

 

BMKG juga telah menambahkan beberapa peralatan yang terdiri dari Intensitymeter untuk mengukur tingkat guncangan di Terminal Bandara akibat gempabumi, Accelerometer untuk mengukur percepatan tanah di Area Bandara, dan Warning Receiver System New Generation (WRS – NG) guna menyebarluaskan informasi Gempabumi dan Tsunami dari BMKG Pusat ke Lingkungan DIY dan Lingkungan Bandara dalam waktu 2 sampai 4 menit setelah kejadian gempabumi.

 

“Gempabumi tidak bisa dicegah karena ini salah satu bencana alam yang menjadi bagian dari kehidupan kita, namun yang dapat dicegah adalah jatuhnya korban jiwa ataupun kerugian sosial ekonomi. Hal inilah yang menjadi goal Sekolah Lapang Geofisika (SLG), khususnya untuk mitigasi Gempabumi dan Tsunami,” pungkas Dwikorita.

 

 

Editor: Dhedy Haryadi

 

 



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *