Solidaritas, Pilar Kebersamaan yang Hakiki

315

Penyerahan dana solidaritas dari wartawan

Oleh Pangihutan Simatupang

Solidaritas, kata ini kerap kita dengar dan membaca di berbagai buku atau media cetak lainnya. Dan kata ini biasa digunakan untuk mengukur rasa kesetiaan sekumpulan orang, komunitas, atau hanya dua insan yang sedang berteman.

Bahkan, ketika kata ini dikaitkan dalam suatu perjuangan untuk mencapai suatu tujuan, solidaritas manjadi suatu yang sakral, sebab ketika solidaritas menjadi landasan, maka tidak ada lagi harga pengorbanan, selain kepentingan bersama. Namun pada kesempatan ini penulis tidak membahas pemahaman solidaritas lebih jauh, selain rasa cinta yang ada di dalamnya.

Berawal postingan di grup Jurnalis Kreatif, yang menyampaikan salah seorang anggotanya, Jaya Hidayat, wartawan senior Harian Sentana, yang bertugas di wilayah Jakarta Barat, sedang sakit. Kabar ini langsung disambut Udin Ginting, Pimpinan Umum Jurnal Kota, yang menginginkan agar teman-teman wartawan membesuknya.

Berselang hitungan menit, penulis ditelpon Udin Ginting, intinya supaya menggalang sikap peduli para jurnalis untuk membantu Jaya Hidayat yang sedang berbaring di rumahnya, dan sudah lama tidak bisa melakukan tugas Jurnalistiknya.

Gagasan mulia ini tentu tidak bisa disia-siakan, dan tak  mau menunggu lama, penulis langsung membuat daftar nama yang ingin merealisasikan partisipasi, dengan judul ‘Rasa Solidaritas kepada pak Jaya’.

Mengagumkan, hanya hitungan menit dana terkumpul dalam catatan yang diposting di grup tersebut hampir mencapai Rp. 2 juta. Yang menjadi catatan dan harus digarisbawahi, dalam kondisi sulit Pandemi  Covid-19, sejumlah jurnalis masih bersedia merogoh sakunya. Ini merupakan bentuk rasa simpati dan cinta, di balik kata solidaritas yang dicantumkan.

Tonggak kebersamaan jelas mengedepankan kesungguhan teman-teman, sehingga tidak berlebihan kalau penulis sebut ‘Solidaritas merupakan Pilar Kebersamaan yang Hakiki’.

Merasa sama-sama menyandang profesi wartawan, meskipun bekerja di media yang berbeda. Esensinya bukan pada medianya, tapi profesinya. Inilah sumber kekuatan kebersamaan yang harus dipegang teguh, sehingga solidaritas wartawan, khususnya yang berada dalam grup Jurnalis Kreatif semakin tinggi,  benar-benar hakiki, dan jauh dari panggung sandiwara yang banyak dipertontonkan para oportunis. Salam.

 

Penulis, mantan Ketua PWI Koordinatoriat Jakarta Selatan dan Kepala Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) DKI Jakarta

 



Bicarajakarta.com adalah media massa berbasis online, situs ini berisikan informasi dan kejadian-kejadian di Ibukota


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *