Heboh Perdunu dan Festival Santet, Ini Kata Pengamat Budaya

130

Jakarta, BIJAK

Deklarasi Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) dan Festival Santet yang direncanakan digelar, menjadi polemik dan bahan pembahasan dan pembicaraan di masyarakat.

Wasekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Suryadi turut angkat bicara, ia mengatakan, perdukunan dan santet produk budaya dalam pengertian luas, yang sudah ada sejak orang lebih banyak menggunakan naluri hingga kini abad modern. Maka, harus dilihat esensinya ketimbang mengambi langkah reaktif yang malah bakal kontraproduktif.

“Oleh karena itu, jalan yang dirasakan efektif adalah ‘menghadapinya” dengan hidup tetap beretika dan berbudaya luhur,” katanya di Jakarta, Minggu (7/2/21).

Pernyataan itu dikemukakan Suryadi merespon deklarasi Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara) dan rencana mengadakan festival santet di Banyuwangi, Jatim.

Menghadapi sejenis Perdunu dan segala aktivitasnya, tidak perlu panik lantaran hanya persoalan tengah membangun citra suatu daerah.

Mengutip antropolog Koentjaraningrat, Suryadi melanjutkan, unsur kebudayaan itu, termasuk sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, dan sistem pengetahuan.

Juga termasuk di dalamnya adalah bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan.

Oleh karena itu, jika Perdunu dianggap tidak menguntungkan bagi citra Banyuwangi, eskalasi saja secara positif mana-mana yang dipandang baik dari unsur-unsur tersebut dengan menyesuaikan pada skala prioritas pembangunan daerah yang bersangkutan.

Dalam pandangan Suryadi, mana-mana yang patut diekskalasi secara afirmatif adalah yang menguntungkan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat setempat.

“Jadi, tidak perlu reaktif. Pantas-pantasnya lalukanlah koreksi, apakah selama ini sudah maksimal melakukan pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai cita-cita dan tujuan akhir sebuah Negara berpemerintahan,” kata pendiri Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (PUSKOMPOL) itu.

Praktik-praktik perdukunan dan sejenisnya yang hingga kini tetap eksis, lanjutnya, sesungguhnya punya riwayat panjang sepanjang keberadaan manusia masih jauh dari rasional dan agama.

Realitas itu, bukan cuma ada di Banyuwangi atau di Indonesia. Di negara maju pun kepercayaan akan hal-hal yang bersifat mistis, juga masih berlangsung.

“Tapi, mereka mampu menandinginya dengan budaya teknologi maju yang pastilah rasional. Jangan lupa, beri ruang penghalus budi seperti berkesenian dan sejenisnya,” katanya.

Sampai hari-hari ini, lanjutnya, masih sering terdengar bahkan pejabat yang berpendidikan tinggi mendatangi dukung yang mereka sebut “orang pintar”.

Hal-hal seperti bahkan disoroti tajam oleh budayawan Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya “Manusia Indonesia” (TIM, 1977) dengan sebutan Percaya Takhayul.

Suryadi, melihat dengan cara-cara peningkatan kapasitas SDM, “perlawanan” terhadap praktik-praktik perdukunan akan lebih elegan dan dengan sendirinya yang takhayul itu akan kian tersingkir.

Penulis: Red

 



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *