Catatan Pojok Buat Bro Edi dan Bro Marlais, “Selalu Ada Ide, Meski Terkadang Konyol”

151

Marlais di belakang Irfan Pangihutan

Kami beranjak meninggalkan bangunan setengah tua bercat biru yang sudah kusam, tempat kami menimba ilmu, yakni Gedung SMEA V di Jl. Arabika No 17, yang diapit sejumlah gudang yang setiap hari beraktivitas. Namun kami tidak pernah tahu gudang-gudang apa itu, karena kami tidak pernah mau tahu.

Aku, Marlais dan Edi, duduk di kelas 2, tapi tidak satu kelas, namun kami bersahabat.

Saat ini kami pulang sekolah, tapi belum mau pulang ke rumah. Kami ingin keluyuran dulu, tapi tidak tahu mau ke mana, yang pasti tidak ke pusat perbelanjaan, seperti Glodok misalnya. Ini tahun 1979 (remaja tahun 70-an), kami belum terkontaminasi main ke tempat keramaian seperti itu.

Edy (Muzwardi) jongkok

Pada saat seperti ini, Edi akan melontarkan gagasan, memang temanku yang satu ini kerap mengusulkan ide untuk mencari solusi, saat kita nyaris kehabisan akal.

“Kita ke terminal dulu, nanti baru kita pikirkan kemana kita,” cetusnya. Maksudnya ke Terminal Kota.

Sampai di terminal, kami duduk bertiga di atas tembok kali dekat pos terminal sambil mencari dan menunggu gagasan apa yang akan muncul dari otak kami bertiga.

Sementara otak kami terus berselancar mencari ide, perut kami bertiga sudah keroncongan alias lapar, maklum sudah jam 1 siang lewat, sudah waktunya santap siang,.. tapi apa yang mau disantap,..karena jatah makan siang adanya di rumah, bukan di warung,..itu aturan orangtu, sesuai jatah ongkos dan uang jajan sekolah.

Untuk mengisi perut, pertolongan darurat, kami ingin membeli singkong goreng dari pedagang pikulan. Tapi tidak ada sisa uang saku untuk itu, yang ada di kantong masing-masing uang untuk ongkos bus pulang ke rumah.

Pada saat seperti ini, Edi dan Marlais akan memberikan ide, uang untuk beli singkong, pakai uang ongkos bus milikku, resikonya, aku tidak usah bayar ongkos bus, alias numpang saja. Suatu pengorbonan untuk kebersamaan.

Hal seperti ini sudah sering terjadi, aku suka mengalah, supaya bisa mengganjal perut lapar. Dan urusan naik bus, nanti saja saja urusannya, apa yang terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang, persoalan perut teratasi.

Setelah sekian lama tidak ada gagasan mau keluyuran ke mana, akhirnya diputuskan pulang ke rumah Edi saja di Kawasan Roxy, Jl. Subur II Jakarta Pusat.

Di dalam bus, perjalanan ke rumah Edi, aku tidak jadi numpang, muncul satu gagasan lagi, uang ongkos Edi dan Marlais disatukan, lalu diberikan kepadaku, selanjutnya ku bayarkan ke kondektur, sambil berbisik.. “Tiga orang bang”.

Jadi ongkos dua orang disatukan, dibayar untuk tiga orang,… artinya aku menumpang pada ongkos yang untuk dua orang itu. “He he he ide yang bagus,..
Intinya tetap saja aku menumpang, tapi diperhalus”.

Si kondektur melotot sambil menghitung duit yang aku bayarkan kepadanya, tapi hanya begitu saja, lalu meninggalkan kami yang berdiri di bagian belakang bus.

Saat itu ada bangku kosong, tetapi kami tidak mau langsung duduk dulu, karena bayarnya tidak full. Namun setelah kondektur berada di bagian depan bus, kami langsung berebut duduk. (Kebiasaan buruk dan konyol).

Setelah setengah perjalanan menuju Roxy, seorang cewek berkulit putih, berseragam SMA, naik ke dalam bus yang kami tumpangi, dan duduk di bagian belakang, persih di belakang kami.

Entah siapa yang ngomong dari salah temanku ini, aku lupa, tujuannya menantang aku, “kalau bisa tahu nama cewek itu, dinyatakan hebat, dan akan ditraktir makan mie gratis”.

Saat itu yang kupikirkan bukan makan mie gratisnya, karena aku tahu, “boro-boro” bayarin makan mie, beli singkong aja tak ada duit.

Yang kupikirkan, bagaimana caranya bisa ngajak cewek itu ngomong, baru nanya namanya. Terus aku akan disebut hebat. (Suatu kebanggaan bagi remaja pria).

Meski kening berkerut, aku tidak dapat ide. Akhirnya aku bertanya kepada Edi, siapa tahu dia punya ide, dan tahu caranya.

Edi bilang dengan setengah berbisik, supaya aku jatuhkan pulpen ku, persih dekat kakinya, seperti tidak sengaja, terus permisi ambil pulpen yang jatuh, lalu mulailah ngobrol, dan menanyakan namanya.

Ide bagus, meskipun agak “norak”, tapi bisa dipakai. Aku mulai menyusun rencana, .. tapi rencana itu tidak pernah bisa aku lakukan.

Sampai lama temanku berdua ini menunggu reaksiku, tapi sampai mereka bosan menunggu, aku tidak pernah melakukannya, sampai cewek itu turun dari bus, karena sudah sampai tujuannya, di daerah Jl. Gajahmada.

Namun mereka tidak bertanya, kenapa tidak jadi kulakukan gagasan itu, mungkin mereka menilai aku takut atau tidak punya nyali.

Padahal, itu tidak kulakukan bukan karena aku malu atau takut, tapi karena tak punya pulpen. Aku sudah mencari-cari di kantong baju atau mungkin nyelip di buku, tetap tidak ada.

Beberapa menit kemudian, baru aku sadar dan ingat, ketika mencatat pelajaran pun di sekolah tadi, aku pinjam pulpen dari teman sekelas perempuan. (aku lupa namanya, karena keseringan ketinggalan pulpen, sering minjam).

Jadi ceritanya, gara-gara tak ada pulpen, gagal mengetahui nama seorang gadis, yang dikagumi temanku berdua ini. Memang terlalu sering tertarik dengan lawan jenis, kebiasaan remaja yang belum punya pacar permanen.

“Yang sering aku sebut, dalam satu hari, tiga kali jatuh cinta, tapi tidak pernah pacaran”.

Pendek cerita, kami sampai di rumah Edi, lalu naik ke lantai 2, kamar Edi. Tak lama kemudian, Edi menyediakan nasi lengkap dengan lauknya, untuk kami bertiga. Sehingga persoalan lapar terselesaikan, perasaan pun nyaman dan tenang.

Makan siang ini merupakan kejadian yang sangat berkesan, tak mungkin dilupakan, dan masuk dalam catatan perjalanan masa sekolah.

Memang masih banyak kejadian yang pantas diingat dan dicatat menjadi sebuah kenangan, namun banyak yang terabaikan, hingga kami berpisah puluhan tahun.

Terakhir aku dengar Edi bekerja di Jamsostek di daerah Sumatera Barat dengan posisi yang lumayan, dan Marlais Simanjuntak menjadi Kepala Kantor Pajak di Sumatera Utara, dan pindah-pindah, sedangkan aku hanya menggeluti dunia pers, dan aktif di organisasi insan pers, dipercayai menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta Selatan, berkantor di lantai 6 Gedung Wali Kota Jakarta Selatan, dan terakhir diangkat menjadi Kepala Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) PWI DKI. Dan sampai sekarang menjadi penanggung jawab media online, sesuai peraturan UU Pers No. 40 Tahun 1999, tentang pers.

Bagi kami, ini semua rencana Tuhan, bukan karena kegagahan kami, atau kehebatan kami.

Saat ini, temanku yang dua itu sudah pensiun, dan saat perjuangan masa sekolah telah dilewati, dan hasilnya, masa kejayaan ketika menjadi penjabat pun telah berlalu.

Namun di usia senja ini, pertemanan kami kembali berlanjut dengan episode dan versi yang berbeda.

Saat ini mereka sehari-hari mungkin sibuk mengurusi kebun di belakang rumah, sedangkan aku masih sibuk mencari apa HL yang menarik dan berguna bagi masyarakat umum minggu ini, serta menilai apakah isu ini pantas diulas atau diabaikan saja.

Hal penting yang aku sampaikan melalui catatan pojok ini, terhadap teman-temanku yang banyak ide ini, mengharapkan dan menunggu “ide-ide kalian”, bagaimana cara yang terbaik dalam menjalani “usia senja ini”, sebelum kita menghadap Tuhan.

@Aku menunggu ide kalian

Sebelum aku menutup tulisan ini, aku mengucapkan terimakasih kepada semua teman, baik yang masih ingat kepadaku, atau yang tidak pernah mengenalku di sekolah. Terutama yang pernah meminjamkan pulpen kepadaku.

 

Salam… Irfan Pangihutan Simatupang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *