Risma Dinilai Hilangkan Egoisme Sektoral dalam Birokrasi

130

Jakarta, BIJAK

Kebijakan Menteri Sosial Tri Rismaharini dengan mengantarkan para pemulung bekerja di PT Waskita Karya, di Kantor proyek Tol Becakayu, Kota Bekasi, dinilai tidak hanya positif memberikan penghasilan kepada kaum miskin di tengah himpitan pandemi Covid-19. Apa yang dilakukan Mensos Risma juga bisa menghilangkan egoisme sektoral yang selama ini menjadi salah satu kendala terbesar birokrasi Indonesia.

Penilaian tersebut dilontarkan Sekjen Milenial Muslim Bersatu, Arip Nurahman.
Menurut Arip, jalinan kemitraan antara Kemensos dengan PT Waskita Karya sebagai salah satu BUMN menunjukkan bahwa kedua lembaga tersebut meyakini bahwa kerja besar memberantas kemiskinan tidak bisa berjalan tanpa koordinasi dan kerja sama lintas lembaga dan lintas sektoral.

“Sementara, lemahnya koordinasi dan kerja sama antarlembaga secara lintas sektoral akibat kuatnya egoisme sektoral ini telah lama dikeluhkan, sebagai salah satu penghambat pembangunan,” kata Arip di Jakarta, Senin (8/2/2021)

Menurut Arip, apa yang dilakukan Mensos Risma merupakan kebijakan paralel yang sangat baik.

“Tidak saja hal itu paling tidak mengurangi angka kemiskinan, dengan dimilikinya penghasilan oleh para pemulung tersebut, egoisme sektoral yang menghadang peluang keberhasilan pun mencair,” jelasnya.

Lebih jauh Arip berharap, Kemensos bisa membangun jalinan yang lebih luas, melibatkan sebanyak mungkin lembaga di dalam maupun di luar struktur birokrasi pemerintah.

“Bila hal itu bisa dilakukan, semua urusan akan bisa cepat kelar, karena efek multiplier yang tinggi yang bisa diraih dari kerja sama yang ada,” tambah Arip.

Sebagaimana diketahui beberapa waktu lalu Menteri Sosial Risma mengantar 15 pemulung binaan Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Education, Religion Bee Entertainment (ERBE) untuk bekerja di PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Ke-15 pemulung itu di antaranya Riyadi, Agus Suprijadi, Agus Hardian, Pertinatus Aunsi dan Andri Gunawan Prasetyo tersebut merupakan binaan Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi.

Sementara 10 lainnya yaitu Sogiandi, Hendra Kuswara, Dedi Mulyadi, Didi Kanadi, Abdullah, Achmad Faisal, Nurcholis, Zul Arsyil Mazid, Maimunah, dan Muslimin, merupakan binaan LKS ERBE yang juga merupakan mitra kerja Kemensos.

Saat ini mereka tinggal sementara di Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi dan mendapatkan berbagai pelatihan. Selama menjadi pemulung, rata-rata mereka hanya mendapatkan uang sebesar Rp 30.000 sehingga mereka sulit memiliki akses tempat tinggal dan memilih berada di kolong jembatan atau tidur di trotoar.

Risma juga telah berpikir jauh dengan kebijakannya itu. Nanti setelah mandiri, kata Risma, mereka akan ditempatkan di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Kuncinya Teman-teman harus jujur, rajin dan disiplin. Sulit mendapat pekerjaan saat ini. Saya yakin kehidupan kalian akan lebih baik. Susah dan berat sudah pasti, tapi harus yakin Tuhan bisa memberikan kemudahan di balik kesulitan kita,” pesan Risma.

Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Destiawan Soewardjono, tak hanya menyambut baik gagasan Kemensos tersebut. Ia juga cepat tanggap dengan segera menyebar ke-15 pemulung tersebut ke tiga lokasi proyek PT Waskita Karya, yaitu di Cimanggis Depok, Bekasi dan Cibitung.

“Pada intinya banyak pekerjaan di proyek Waskita Karya yang bisa dikerjakan semua orang tanpa perlu keahlian khusus. Apalagi mereka sudah dapat pelatihan di balai,” kata Destiawan.

Pertinatus Aunsi, pemulung binaan Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi, mengaku bersyukur dengan peluang kerja tersebut.

“Saya berterima kasih kepada Tuhan, kepada Kemensos, saya sangat bersyukur. Terima kasih telah memberi kepercayaan pada kami untuk bisa bekerja di Waskita. Saya berharap dengan bekerja di sini saya bisa menabung untuk membeli rumah kaca.

Menurut Arip, yang paling bernilai dari ‘pemberian’ Risma kepada para pemulung tersebut adalah harta yang tak akan pernah bisa ternilai harganya, yakni keyakinan dan rasa percaya diri yang kembali tumbuh di dada para pemulung tersebut.

“Dengan rasa percaya diri dan yakin, justru para pemulung akan lebih berpeluang sukses, karena mereka seakan memperoleh kesempatan kedua,” pungkas Arip.

Editor: Deddy Haryadi

 



Mengulas Informasi Jakarta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *