JAYAKARTA: JANGAN MENJADI TAMU DI TANAH SENDIRI

 

AYAKARTA: JANGAN MENJADI TAMU DI TANAH SENDIRI Oleh: Tb. Ridwan Arsa

 

Jayakarta lahir bukan dari hadiah, melainkan dari perjuangan. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah memimpin kemenangan atas Sunda Kelapa yang berada dalam pengaruh Portugis. Nama Jayakarta kemudian diberikan sebagai simbol kemenangan, kehormatan, dan kedaulatan. Sejak awal, tanah ini dibangun dengan semangat kemerdekaan, bukan dengan semangat menjadi pelayan bagi kekuatan luar.

Darah para leluhur yang mempertahankan Jayakarta mengajarkan satu pelajaran penting: siapa yang kehilangan jati dirinya, pada akhirnya akan kehilangan tanahnya. Sejarah membuktikan bahwa penjajahan tidak selalu datang melalui senjata. Kadang ia datang melalui penguasaan ekonomi, budaya, pola pikir, dan hilangnya kesadaran terhadap akar sendiri.

Hari ini Jakarta memang telah menjadi kota dunia. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, teknologi berkembang pesat, dan arus global masuk tanpa batas. Namun pertanyaannya sederhana: apakah masyarakat asli Jakarta masih menjadi tuan rumah di kota ini?

Kaum Betawi harus berani menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur.

Jangan sampai kita bangga melihat Jakarta maju, tetapi diam ketika kampung-kampung Betawi hilang satu per satu. Jangan sampai kita kagum pada budaya luar, tetapi lupa bahasa, adat, dan sejarah leluhur sendiri. Jangan sampai anak cucu mengenal budaya bangsa lain lebih baik daripada mengenal akar budayanya sendiri.

Betawi sejak awal bukan bangsa yang tertutup. Leluhur Betawi lahir dari perjumpaan berbagai suku, bangsa, dan peradaban. Ada unsur Melayu, Arab, Tionghoa, Sunda, Jawa, Bugis, dan berbagai unsur lainnya yang melebur menjadi identitas Betawi. Karena itu Betawi tidak pernah takut terhadap perbedaan. Betawi tidak pernah anti terhadap kemajuan.

Namun keterbukaan bukan berarti kehilangan harga diri.

Leluhur Jayakarta menerima tamu, tetapi tidak menyerahkan rumah. Mereka menghormati pendatang, tetapi tidak menghapus identitas sendiri. Mereka membuka pintu perdagangan, tetapi tetap menjaga kedaulatan.

Inilah pelajaran yang mulai dilupakan.

Hari ini ancaman terbesar bukan meriam dan kapal perang. Ancaman terbesar adalah ketika masyarakat Betawi perlahan kehilangan kesadaran sejarahnya. Ketika budaya hanya menjadi pajangan acara seremonial. Ketika identitas hanya dipakai saat perayaan ulang tahun kota. Ketika generasi muda tidak lagi memahami siapa dirinya dan dari mana asalnya.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka Jayakarta akan tetap berdiri sebagai nama, tetapi kehilangan ruhnya sebagai peradaban.

Karena itu, kaum Betawi harus bangkit dengan cara yang bermartabat.

Bangkit melalui pendidikan.

Bangkit melalui pelestarian budaya.

Bangkit melalui ekonomi.

Bangkit melalui keterlibatan dalam pembangunan kota.

Bangkit melalui persatuan dan kesadaran sejarah.

Kita tidak sedang meminta keistimewaan. Kita hanya menuntut agar sejarah dihormati dan budaya yang melahirkan Jakarta tidak dipinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.

Menjelang lima abad Jakarta, saatnya masyarakat Jayakarta kembali mengingat amanah leluhur. Kemenangan tahun 1527 bukan sekadar kemenangan militer. Itu adalah kemenangan menjaga martabat, identitas, dan kedaulatan.

Maka pesan kepada anak cucu Betawi hari ini sangat jelas:

Jangan pernah membenci kemajuan, tetapi jangan pula menjual jati diri demi kemajuan.

Jangan pernah menolak dunia, tetapi jangan sampai kehilangan rumah sendiri karena terlalu sibuk mengagumi dunia.

Jangan pernah melupakan sejarah, karena bangsa yang melupakan sejarahnya akan menjadi penonton di tanah yang diwariskan leluhurnya.

Jayakarta dibangun dengan pengorbanan. Jakarta harus dijaga dengan kesadaran.

Karena Betawi bukan penumpang di Jakarta.

Betawi bukan tamu di Jakarta.

Betawi adalah akar sejarah Jakarta.

Dan selama akar itu masih dijaga, api Jayakarta akan terus menyala dari generasi ke generasi.

Jasa Kelola Website
Kuliah di Turki